Selasa, 02 September 2008

Sebuah Renungan dan Harapan

Sekedar mengulas situasi kemarin (semalam tdk sempat) untuk mengingat jejak-jejak yg tertinggal, sehingga bisa menjadi pengalaman yang dipetik dan menjadi catatan melangkah maju. Menjelang pengumuman inflasi kemarin, perdagangan di IHSG sangat fluktuatif. Situasi ini sering menjadi tipikal hari H pengumuman inflasi dan data inflasi sesuai dengan harapan.

Indeks dibuka negatif lalu melanjutkan penguatan hingga masuk teritori positif, namun ia meluncur turun hingga sesi 1 berakhir. Ketika sesi 2 dibuka hampir bersamaan inflasi diumumkan BPS, indeks naik lagi terutama setelah diketahui inflasi Agustus jauh lebih rendah dengan bulan Juli kemarin (0,51% dibanding 1,37%). Indeks terus naik meski tetap tidak masuk teritori positif, namun ia minus sangat tipis 0,06%.

Dalam kacamata trading, situasi ini bisa dibaca para trader profesional (atau katakanlah institusional) menaikkan harga lalu mengambil profit di sesi pagi sehingga indeks naik lalu turun. Situasi ini untuk wait & see, memastikan data inflasi. Setelah konfirm inflasi rendah, lalu harga yang di bawah dibeli kembali (dengan harga rendah) dan indeks mulai berangsur naik. Jadi profesional trader untung 2 kali, take profit and get cheaper price. Coba perhatikan fluktuasi terutama di sektor keuangan, itu sebuah permainan yg sangat lihai. Kemungkinan besar sektor ini akan naik setelah konfirm inflasi rendah (& harga minyak ternyata turun karena badai Gustav cepat mereda).

Karena hari ini ER dengan arif telah menyampaikan pandangan dan ulasannya, saya ingin mengajak merenungkan potret IHSG kemarin. Meski sektor komoditas tambang minus 1,5%, namun indeks ditopang berbagai sektor lain sehingga hanya minus tipis 0,06%. Meski saya memposisikan sebagai investor retail dan mencoba riding the waves dalam situasi apapun, namun terus terang saya berharap IHSG yang tidak terlalu menggantungkan pada sektor tambang ini terus terjadi.

Apakah kita terus menerus harus menggantungkan pada sektor yang ekstraktif & eksploitatif? Sebuah sektor yang tak terlalu mengandalkan know how & added value, namun hanya sebuah keberuntungan adanya peninggalan fosil. Ketika minyak naik tinggi hingga hampir $150 kemarin, rakyat kecil menjerit akibat subsidi minyak dicabut dan berbagai harga kebutuhan dasar melejit tinggi. Sementara itu, para investor justru berlipat kekayaannya karena harga saham komoditas melambung sangat tinggi. Indonesia lalu dikategorikan sebagai negara dengan jumlah peningkatan kenaikan orang kaya salah satu yang tercepat. Dalam realitasnya, kesenjangan semakin tinggi. Ini juga tercermin dalam angka indeks gini (mengukur tingkat kesenjangan) yang semakin tinggi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia semester kemarin juga naik melebihi yang diperkirakan. Ini tak lebih karena windfall profit kenaikan harga sektor komoditas. Pertumbuhan tetap saja tak berkualitas. Jobless growth. Pertumbuhan ekonomi tinggi ditengah periode deindustrialisasi, infrastruktur yang jebol (lihat krisis listrik kemarin) dan tanpa penciptaan tenaga kerja (sektor informal menjamur karena tak ada jalan lain). Pertumbuhan tanpa pemerataan.

Ekonomi Indonesia perlu bertransformasi lebih maju bukan hanya didorong sektor eksploitatif, ia mesti lebih mengandalkan sektor manufaktur, pertanian, jasa, informasi, dll. Kembali ke pasar modal, diharapkan pasar modal kita menjadi cerminan apa yang terjadi pada sektor riil. Pasar modal kembali ke khittah-nya, berjalan beriringan dan menjadi bahan bakar dan sekaligus pendorong sektor riil. Semoga ini bukan mimpi di siang bolong.

Tidak ada komentar: