Meski Dolar menguat terhadap Euro serta laporan inventori minyak di Amerika mencapai 9.4 million barrels, jauh diatas perkiraan 1.7 million-barrel, namun harga minyak tetap naik mendekati $115. Goldman Sachs juga memproyeksikan minyak akan naik mencapai $149 pada akhir tahun. Sinyal kenaikan harga minyak tampaknya sulit terbendung. Agaknya, persoalan supply minyak jauh lebih krusial daripada penguatan dolar. Mungkin kenaikan minyak akan terhambat sementara waktu oleh penguatan dolar, namun hal itu akan bersifat sementara.
Tren kemarin2 harga minyak terus turun. Lalu, Venezuela meminta OPEC untuk mengurangi produksi bila harga minyak terus turun. Akhirnya, harga minyak tak mampu mencapai level psikologis $110. Kini ia membal ke atas lagi. Secara teknikal harga minyak memang akan naik, seperti yang kulihat dari analis teknikalnya Pak Tasrul.
Dilihat dari permintaan, kebutuhan energi tampaknya akan terus melonjak. Cina beberapa waktu lalu memperlihatkan perlambatan ekonomi, sehingga kebutuhan energi melambat. Namun, kemarin pemerintah Cina diberitakan akan memberikan stimulus fiskal yang sangat besar untuk mendorong ekonomi domestik. Indeks saham yang pingsan tahun ini di Cina, kemarin tiba2 langsung melonjak 7% menyambut berita itu. Konsekuensi dari ini, jelas melajunya mesin ekonomi Cina akan membutuhkan pasokan energi yang cukup besar.
Kamis, 21 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar