Seperti yang telah diperkirakan tadi pagi, IHSG ambrol hingga 1,9%. IHSG bahkan sempat melampaui minus 3%. Sementara itu, indeks mining jebol hingga 6,2% dan indeks agri turun 3,1%. Jebloknya sektor komoditas menyeret berbagai sektor lain. Sektor komoditas merupakan penopang kuat indeks. Tren mahalnya komoditas di tingkat internasional tentu menguntungkan negara yang kaya SDA.
Ini berita dari Bisnis Indonesia : Harga CPO Malaysia terjungkal 4,8% siang tadi hingga level terendah dalam sembilan bulan dipicu aksi jual investor global karena khawatir akan berkurangnya permintaan minyak nabati akibat perlambatan ekonomi. CPO dan minyak kedelai yang ditransaksikan di China, pasar minyak goreng terebsar, kedua-duanya anjlok hingga limit transaksi harian yakni 5%. Kedua minyak nabati ini bersubtitusi dan sering kali pergerakan harganya seiring dengan harga minyak mentah karena dipakai juga untuk bahan bakar alternatif. Harga minyak sore ini turun hingga di level US$120,48 per barel, level terendah dalam tiga bulan. Bahkan, ia sempat menyentuh US$118 per barel.
Apakah jebolnya harga komoditas otomatis menjadi doomsday bagi semua sektor? Belum tentu. Sektor komoditas turun, maka ekspektasinya membuat inflasi lebih terkendali sehingga sektor konsumsi akan naik karena daya beli masyarakat lebih kuat. Inilah yang membuat emiten sektor konsumsi akan naik seperti INDF ataupun UNVR. Harga minyak yang turun juga membuat ekspektasi penjualan kendaraan bermotor meningkat seperti yang dilihat pada ASII. Tadi pagi siang aku sudah mikir2 soal ini, sayang terlalu terpengaruh pada analisa orang lain dari sekuritas tertentu makanya aku jadi agak ragu2.
BI rate sudah diperkirakan akan naik menjadi 9%. Akibatnya, sektor finance hari ini naik tipis. Agaknya, ini juga ditopang sentimen kinerja perbankan yang memang bagus.
Selasa, 05 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar